Lady in Red

February 19, 2012

ga abis-abis…

Filed under: lepas! — terdalam @ 5:55 am

ga abis-abis cerita gw bersama orang-orang aneh
apa karena gw aneh jadi gw ketemu sama orang aneh mulu yah?
lepas dari satu orang aneh, ketemu orang aneh lainnya…
ada yang aneh karena ga pede, ada yang aneh karena kepedean

intinya sama aja: sama-sama aneh

aneh udah lama-lama deket-deketan, pas ditanya kapan mau nikah, jawabannya blah bloh
aneh yang katanya ga pengen bikin dosa tapi tetep ngajak pacaran
aneh yang tiap ditanya soal nikah, langsung ngeles sana sini
sama anehnya kayak yang baru ketemu lagi terus tiba-tiba ngajakin nikah

yang ga berani ngajak nikah aneh
yang ngajak nikah buru-buru juga lebih aneh lagi
kok yah ga ada abisnya sih?
tapi lumayanlah, buat bahan ketawaan kalo ditanyain sama orang-orang

bukan gw-nya yang ga mau lhooo
emang belom ada aja yang sehat jiwanya
tunggu aja deh yah, besok lusa juga pasti ada
daripada buru-buru terus dapetinnya yang aneh-aneh lagi?

jangan gilak dong?!

Jaman Wuedan!

Filed under: man in blue — terdalam @ 5:48 am

Yup, jaman sudah wuedan…
Ketemu temen lama, jaman kuliah dulu
Ga ada angin, ga ada hujan…
Ketemu ga sengaja, tiba-tiba diajakin nikah

Emang nikah kayak beli combro?
Asal nemu tukang combro, tanya berapa, terus bayar
Beli combro aja mesti ngecek dulu, di dompet ada duitnya ato ga?
Belom lagi liat yang jualan, bersih ato ga?

Salah salah beli sembarang combro bisa sakit perut
Kalo cuman sakit perut doang, kalo mesti masuk rumah sakit?
Apa ga makin ribet cuman gara-gara tergoda combro pinggir jalan
Trus pas nge-cek dompet, duitnya masih ada. Ribet kan?

Nah, kalo beli combro aja pake cek dan ricek…
Udah ketauan dong kalo mau nikah mesti gimana?
Ga bisa cuman karena gw jomblo dan lo jomblo
Trus moment-nya pas karena sama-sama kebelet nikah, trus nikah aja!

Santai sob!
Yang keburu-buru itu nyeremin, beneran deh…
Ada motif apa di balik buru-buru lo?
Kayak lo tau tentang gw aja? Yakin lo beneran mau?

Eh, ternyata bener kan?
Untung gw belom maen hati
Tapi yang lebih spekta-nya, gw udah kenalin lo ke orang rumah
Sedikit memalukan sih tapi seenggaknya gw terhindar dari malapetaka sedari awal…

Tuhan masih sayang sama gw
Tuhan selalu jawab doa-doa gw
Tadinya gw pikir lo itu jawaban doa gw
Taunya ‘ga yakin’-nya gw sama lo yang kucrut itu yang jawaban dari Tuhan

Jadi di jaman wuedan ini, apa aja bisa terjadi
Bahkan bawa-bawa sebuah ikatan suci, pernikahan
Dengan gagahnya pula, ngemeng depan bokap gw
Ya empyuun… Kayaknya obat lo udah abis deh, sob!

Yah, ini judulnya dagelan awal tahun
Kirain kali ini gw  bakal lebih yakin daripada berapa belas taun lalu pas dia sempet ngajuin proposal juga
Tapi ternyata dari dulu ampe sekarang rasanya ke lo sama aja
Nihil!

Yah, gimana ga nihil…
Lo tau: law of attraction? Hukum ketertarikan?
Kalo lo baik, lo bakal menarik hal-hal baik di dunia ini
Kalo lo sebaliknya, yah lo udah gede-lah, tau konsekwensinya

Selamat menikmati jaman wuedan
Gw sih ga mau ikut-ikutan
Cukup tau aja, kalo cowo wuedan kayak lo itu emang nyata
Seenggaknya gw jadi bisa lebih waspada!

Dan buat lo, ati-ati yah.. Karma itu: NYATA!

 

February 6, 2012

Kalau Bukan Kamu, Lalu Siapa?

Filed under: kontemplasi — terdalam @ 7:05 pm

Lama aku berpikir sendiri, merangkai kata dari dasar lubuk hati.
Kenapa kubiarkan kamu pergi?
Kenapa kupaksakan menerima kenyataan ini?
Dari satu kenapa ke kenapa lainnya, aku masih mencari…

Kalau bukan kamu, lalu siapa?
Yang akan menemaniku berkata-kata apa adanya.
Yang bisa tertawa gila tanpa merasa gila.
Yang sempat bermimpi menjadi tua bersama.

Aku masih mencari kenapa.
Aku larut dalam rasa bersalah.
Merelakanmu aku tak pernah.
Aku masih ingin kamu yang singgah.

Tapi kisah kita usai, selesai sudah.
Sudah habis masa pakainya.
Mungkin rasa kita sudah kadaluwarsa.
Lalu aku dan kamu menyerah, kalah.

Perahu itu belum kita naiki bersama.
Dia sudah pecah sebelum gelombang datang.
Kaptenku memilih jalannya sendiri, lari entah kemana.
Aku si penumpang bingung, hilang arah.

Tapi kalau bukan kamu.
Lalu siapa?

Bandung-ku Dulu…

Filed under: melukis langit — terdalam @ 6:58 pm

Bandungku dulu penuh cinta.
Setiap sudutnya menggembirakan rasa.
Mataku hangat karena asa yang bergelora.
Banyak impian ku tebarkan di sana.

Bandungku dulu menyimpan damai.
Tenangku di antara setiap sisi yang ramai.
Aku berlari riang siap memanen rasa yang ku semai.
Bandungku dulu, permai.

Satu demi satu harapan ku lepaskan.
Di setiap titik yang menitikkan air mata luka.
Ada cerita duka, ada hati yang patah.
Bandungku kini, ingin kutinggalkan…

menunggu taxi di kemang dan pelajaran di dalamnya

Filed under: Uncategorized — terdalam @ 6:47 pm

jum’at malam, setelah melepaskan sesuatu dalam hidup
sesuatu yang sudah seperti udara yang aku hirup setiap detiknya
tapi aku merasa inilah jalan yang terbaik untuk semuanya
when you lost some, you’ll get some

tapi aku butuh teman bicara malam ini
dan pilihan jatuh kepada satu-satunya sobat yang paling siap sedia malam
kemang – pilihan paling menarik malam itu
bercakap-cakap dari hal penting sampai hal absurd! kita memang gila…

percakapan itu sudah tidak penting lagi, karena ada yang lebih penting
yang membuat teman saya *mungkin* berpikir untuk meninggalkan saya :p
ketika waktunya pulang, kami menunggu taxi dengan sabar
karena teman ini akan meneruskan pulang menggunakan taxi, kami memilih tarif bawah

antara taxi P atau taxi E tidak mau yang lainnya
kriterianya paling pas seperti yang kami mau
menunggu dengan sabar…

#to be continued
*postingan lama yang tidak sempat selesai…

everyday we’re making love

Filed under: lepas! — terdalam @ 6:45 pm

i love you; three simple words but means a lot…
just the three of us… me, you and our love!

*postingan lama yang sempat hanya menjadi draft

aku tidak tahu apa yang aku (pernah) tahu…

Filed under: kontemplasi — terdalam @ 6:44 pm

Aku tahu apa yang aku tahu…
Aku tahu apa yang aku tidak tahu…
Aku tidak tahu apa yang aku tidak tahu…
Aku tidak tahu apa yang aku tahu…

Aku tahu aku sayang kamu (dulu)
Aku tahu kamu sayang aku (dulu)
Aku tidak tahu apakah kamu benar-benar dengan rasamu
Aku tidak tahu apakah aku bener-benar dengan rasaku

Saatnya aku mencari tahu, sekali lagi…

Kamu; Temanku…

Filed under: complicated — terdalam @ 6:41 pm

Kamu temanku. Teman nomor satuku.
Kamu temanku. Teman favoritku.
Kamu temanku. Teman yang aku cari ketika sendu.
Kamu temanku. Teman, beritahu aku, apa nama rasaku?

Kamu yang begitu, yang tergelak atas deritaku.
Kamu yang bertanya diam-diam, ada apa dengan hatiku?
Kamu yang pertama kulihat penuh dengan gelora.
Kamu yang membuat aku selalu ingin bercerita.

Teman, boleh aku sebut kamu teman?
Karena rasaku ini bukan hanya teman untukmu.
Tapi aku takut kamu tertawakan aku.
Jadi ku panggil kamu teman saja, teman kesukaanku.

Susah senangku, kubagi denganmu.
Segenap hati kuceritakan hidupku.
Kamu masih bergelora, memaksa aku tertawa.
Katamu: santai aja, senang pasti datang!

Senang itu sudah datang bersama dengan hadirmu, teman.
Senang itu bersembunyi ketika aku tak bisa menemukanmu, teman.
Masih pantaskan kau ku panggil teman?
Jika rasaku melewati batas seorang teman.

Jangan khawatir teman, rasa ini hanya untukku.
Ku simpan rapi di antara dalih kau adalah selayak saudaraku.
Teman, jangan berubah. Tetaplah begitu.
Dengan geloramu, dengan semangat mudamu.

Satu saat nanti teman, akan ku ceritakan kisah cinta baruku.
Bukan untuk membuatmu cemburu.
Karena aku tak tahu apakah kau menyimpan rasa yang sama sepertiku.
Aku pilih menjadi palsu daripada harus kehilanganmu.

Karena kamu, hanya teman bagiku.
Atau karena aku, hanya teman bagimu.
Ah, apapun itu sama saja, intinya hanya satu!
Kamu, temanku…

Ingin Ku-Tuntut Kamu!

Filed under: lepas! — terdalam @ 6:09 pm

Ingin ku tuntut kamu atas janji-janjimu.
Ingin ku tuntut kamu atas luka hatiku.
Ingin ku tuntut kamu karena kamu mulai jemu.
Ingin ku tuntut kamu karena cintamu semu.

Sayang waktu itu aku tak buat kontrak mati denganmu.
Jika salah satu dari kita pergi, kita boleh saling menuntut.
Sayang waktu itu aku hanya mengandalkan rasaku.
Rasaku yang kuyakin akan tetap ada di situ.

Rasaku mati karena rasamu memudar.
Rasaku mati karena janjimu ingkar.
Rasaku mati karena kita terlalu berjarak.
Rasaku mati karena duniamu terlalu semarak.

Ingin ku tuntut kamu jika ku mampu.
Ku ajukan ke meja hijau sampai kau bangkrut.
Ingin ku tuntut kamu tapi lidahku kaku.
Aku tak mampu berdebat atau sekedar menyapamu.

Hilang sudah inginku.
Lepas sudah harapanku.
Bersamamu bukan lagi bahagiaku.
Padahal dulu kau cinta matiku.

Ingin ku tuntut kamu kalau saja kau menuntutku.
Tapi kamu memilih pergi dan berlalu.
Seolah tak pernah ada rasa antara kamu dan aku.
Lalu apa kamu selama ini, palsu?

Elang Terbang Sendiri, Bebek Bergerombol

Filed under: kontemplasi — terdalam @ 6:00 pm

Aku tidak suka ramai-ramai.
Aku suka makan sendiri.
Aku tidak punya phobia.
Aku merasa terlalu kuat.

Aku wanita tidak suka banting harga.
Aku wanita tidak suka juga belanja.
Aku wanita berdandan ala kadarnya.
Aku merasa kadang aku kurang rasa.

Kata temanku, elang terbang sendiri, bebek yang bergerombol.
Bantahku, bebek laris jadi bebek goreng, diincar, diminati.
Kata temanku, dicari untuk dipotong lalu masuk dalam perut.
Kataku, setidaknya pernah berguna.

Aku elang yang terbang sendiri.
Aku mencari apa yang ingin aku temui.
Kadang aku melesat terlalu tinggi.
Meninggalkan mereka yang bermaksud menemani.

Aku nyaman terbang sendiri.
Aku benci terbang sendiri.
Aku bahagia terbang sendiri.
Aku lelah terbang sendiri.

Susah senangku tak lagi berarti.
Intinya aku tetap terbang sendiri.
Aku pernah mengajakmu lewati hari agar tak sepi.
Kepakku terlalu tinggi, cakarku melukai.

Sampai kini, aku masih terbang sendiri…

Next Page »

Theme: Rubric. Blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.