Lady in Red

April 8, 2014

Dua..

Filed under: melukis langit,terdalam — terdalam @ 6:06 am

Setiap dari kita akan sampai pada masa perdebatan batin di simpangan pilihan… Waras!

Antara berbuat baik, atau terpaksa berbuat jahat.
Iya. Terpaksa. Karena jiwa yang sesungguhnya selalu sehat.
Terawat.
Tanpa cacat.
Tapi bisingnya dunia, riuhnya hasrat, sesatnya syahwat,
membuat manusia memilih berjiwa hitam pekat, dan terus melesat,
meninggalkan perintah untuk menjadi ummat yang ta’at.
Ketamakan dan kedermawanan terus berdebat.
Keinginan memberi dan keinginan dilayani tak pernah sepakat.
Kesabaran terpojokkan oleh kemarahan sesaat.
Hanya kepada bijaksana kita bisa meminta pendapat.
Agar jiwa tumbuh dalam tubuh yang yang selalu mensyukuri nikmat.

 

Tiara memilih pergi menenangkan diri ke sebuah pegunungan yang sepi. Dia ingin mencari jiwanya yang sudah lama mati. Berbekal peralatan camping seadanya, Tiara menemukan sebuah tempat yang menarik hati. Dengan susah payah dia bangun tenda untuk tempatnya beristirahat, supaya bisa segar besok pagi. Tapi ternyata membangun tenda adalah hal yang sulit. Sampai akhirnya dia kelelahan sendiri.

Tangannya mengikat rambut panjangnya yang terurai menjulur-julur tersibak angin pagi pegunungan. Peluh bercucuran. Tiara tidak mampu membangun tendanya. Dia mulai hilang akal. Duduk di samping tenda tanpa tahu harus berbuat apa. Dieratkan jaket merah yang dia kenakan. Angin semakin nakal berhembus tak kenal kasihan.

Tiba-tiba Tora datang memberikan bantuan. Diulurkan tangannya, diambil tali dari tangan Tiara. Dibangunnya sebuah tenda yang bisa membuat Tiara tenang menerjang malam. Tiara hanya memperhatikan Tora yang sedang asik membangun tenda untuknya. Setelah selesai, Tora berlalu begitu saja. Bahkan Tiara tidak sempat sekedar mengucapkan terima kasih, atau menatap matanya.

Di tenda lainnya, tepat di sebelah tenda Tiara berdiri, Tora sedang menyiapkan makan siangnya. Merebus mie instant, yang sama sekali bukan pilihan. Tapi hidup untuk seorang Tora kadang memang tanpa pilihan. Sepercik api melesat dari tempatnya terbawa angin yang lumayan kencang. Tora terkejut, kaget, dan segera melompat. Kakinya menyandung panci yang berisi mie instant. Semuanya berantakan. Tora memaki kasar. Dia kesal. Dilemparnya panci beberapa jarak darinya.

Prang!

Panci jatuh tepat di bawah kaki Tiara. Dia kaget lalu berlari ke dalam tenda. Dari dalam tenda dia memperhatikan Tora yang terus menerus mengucap sumpah serapah. Ternyata lapar membuat manusia menjadi gusar. Mata Tiara nanar memperhatikan setiap gerakan Tora. Antara takut dan kasihan padu menjadi satu dalam batin Tiara. Dia tahu Tora lapar. Dia juga tahu, Tora sudah kehabisan bahan makanan. Tora pergi bergegas berjalan menuju hutan. Tiara keluar dari tenda, sekarang mungkin sudah aman.

Tiara membuat makan siang untuknya, dan Tora. Nasi liwet lengkap dengan ikan asin kesukaannya. Ditaruhnya satu piring tepat di depan tenda Tora. Tiara berharap Tora segera kembali, dan makan siang bersamanya. Tapi Tora tak kunjung datang dari dalam hutan. Tiara menyantap makan siangnya sendiri, hilang sudah laparnya. Dia berjalan menuju danau, hendak melepas dahaga. Tiba-tiba dilihatnya Tora dari jauh berjalan dengan langkah besar, dia masih gusar. Tiara berlari menjauh dari danau. Bersembunyi di dalam gua, di antara bebatuan.

Tora sampai di depan tendanya, menemukan sepiring nasi liwet dan ikan asin kesukaannya. Matanya berbinar senang. Tanpa mencari tahu siapa yang berbaik hati memasak untuknya, Tora segera menyantap makanan itu dengan lahap. Sebentar. Piring kosong, tanpa bekas. Lapar sudah hilang, tuntas. Baru Tora tersadar, kepada siapa dia harus mengucapkan terima kasih atas makan siangnya? Tora melihat ke kiri, ke kanan, diamati sekelilingnya, dia tidak menemukan kehidupan lain, selain tenda di sampingnya.

Tiara masih di balik bebatuan memperhatikan gerak gerik Tora. Tiara takut kalau saja Tora kembali berbuat kasar, atau sekedar bertingkah gusar. Tora berjalan mendekati tenda Tiara, tenda yang tadi pagi dia dirikan. Tidak ada siapa-siapa. Tak ada tanda-tanda kehidupan. Tora tak acuh, berjalan kembali ke tendanya. Tora sudah tenang, Tiara berjalan dari bebatuan, menuju tendanya, hendak menyiapkan dua cangkir kopi manis yang panas.

Lelaki itu seukuran badannya. Dengan kupluk di kepala. Berjaket biru tua yang sudah lusuh tertimpa keringat. Mungkin Tora sepertinya, Tiara membatin tanpa bahasa. Mencari tenang supaya bisa jadi pemenang. Karena hidup ternyata tidak mudah, meskipun tidak terlalu susah. Siapa tahu Tora bisa menjadi temannya. Teman sekedar berbagi cerita. Tiara hanya bisa berharap. Tanpa tahu apakah Tora berpikir sama dengannya.

Tiara melihat tenda di sebelahnya, tenda milik Tora. Tak jauh dari sana, Tora tengah tertidur pulas sambil menikmati semilir angin yang berkejaran. Tiara tidak ingin membangunkannya. Meskipun dia sangat ingin menyampaikan salam perkenalan. Hari semakin sore, langit memerah. Kopi manis panas sudah siap dihidangkan. Tiara memberanikan diri mendekati tenda Tora. Tora ada di sana. Memegang gitar. Bernyanyi lagu cinta. Tora tidak menyadari kehadiran Tiara.

Tangan Tiara terjulur memegang kopi manis panas di tangannya. Tora mendongakkan kepalanya, mencari tahu siapa sosok pemilik tangan di hadapannya. Tora memicingkan matanya. Seolah mengenal si wanita. Sementara Tiara membuka matanya, mencari tahu, pernahkah dia mengenal lelaki di hadapannya? Mereka saling memperhatikan, bukan sebentar, meskipun tidak terlalu lama. Lalu mereka tertawa bersama.

Tora menikmati kopi manis panas yang disiapkan Tiara. Mereka larut dalam malam. Tiara menyandarkan kepalanya di bahu Tora. Tiara merasa damai, nyaman, dan tenang di bahu yang tidak terlalu bidang milik Tora. Mereka kembali tertawa bersama. Tora memakaikan jaket biru tua lusuhnya ke pundak Tiara. Sekarang Tiara berjaket dua. Tora jumawa, sedikit merasa berarti untuk Tiara yang dia lihat sebagai makhluk yang lemah. Mereka merasa pernah kenal satu sama lainnya. Pada satu masa, mungkin mereka pernah bersama. Jika reinkarnasi itu nyata. Mungkin mereka dahulu adalah sepasang beruang hutan yang pernah saling mencinta. Atau mungkin mereka memang belahan jiwa. Entahlah.

Cangkir kopi manis panas kedua. Malam semakin kelam. Tora berhasrat syahwat. Tiara mulai tidak nyaman. Ditolaknya sesaat. Tora kembali memaksa. Tiara mulai menggeliat. Cengkaraman tangan Tora semakin erat. Tiara tidak bisa lagi melawan. Lumpuh sudah pertahannya. Tiara mulai terjerat. Bulan tertutup awan, seolah malu melihat mereka yang tengah bergulat. Malam itu dosa telah terbuat.

Tiara terhenyak. Dia segera berlari menuju danau yang tenang. Seolah ingin membersihkan dirinya dari dosa yang baru saja terasa nikmat. Tora terbangun, dia mulai gusar, merasa bersalah tapi sekaligus murka. Dia merasa Tiara menolaknya. Tiara berlari menuju danau. Tora mengejarnya sekuat tenaga. Merasa tidak aman, Tiara berlari lebih jauh menuju gua. Tora masih mengejarnya.

Tiara teringat tempat tadi siang dia bersembunyi dari Tora. Dia berlari semakin kencang, semakin tak tenang. Tora masih mengikutinya, masih gusar, semakin kasar. Kemana kasih yang baru saja terlihat? Padahal api unggun yang menjadi saksi dosa masih menyala? Mereka sekarang sudah bukan lagi beruang yang dulunya pernah saling mencinta. Mereka sekarang adalah dua manusia yang tiba-tiba menjadi binatang. Bersiap untuk saling memangsa.

Di gelap malam yang semakin temaram, berbekal api dari kayu bakar yang sempat diraihnya dari tenda, Tiara berlari tanpa lelah. Dia tahu sesuatu akan terjadi padanya. Tora akan menghabisinya. Tora kembali ke tendanya mengambil lampu minyak. Tora butuh terang untuk bisa mencari Tiara dalam kelam. Lampu minyak sudah di tangan. Dengan langkahnya yang besar, kasar, dan gusar, Tora kembali menuju gua. Dia tahu, dia akan menemukan Tiara, dia siap untuk menghabisinya.

Mereka berlarian dengan langkah tak pasti. Tiara bersembunyi. Tora terus mencari. Tiara menangis. Tora memaki. Dalam kepanikannya Tiara menjatuhkan kayu bakar yang sudah menjadi api. Tora melihat terang di satu sisi. Segera dia menghampiri. Tiara semakin panik. Tora melihatnya berdiri, pucat pasi. Tora mengayunkan tangannya dengan pasti. Tiara lumpuh hanya dalam hitungan detik. Lehernya tercekik. Tora mengguncang-guncang badan Tiara dengan penuh benci. Mereka saling mencekik. Mereka menjerit. Bulan pun makin bersembunyi. Angin bertiup membawa pesan suci, agar mereka segera berhenti. Tapi akal sudah mati. Mereka tak lagi sehati.

Matahari menyeruak membuka pagi. Dua tenda masih kokoh berdiri. Satu milik Tora yang dibangunnya sendiri. Di sebelahnya milik Tiara yang terlihat sepi. Api unggun sudah mati. Sisanya tinggal menjadi abu yang berhamburan tertiup angin, ke sana, ke mari. Kopi manis panas sudah tidak ada lagi. Tinggal cangkirnya yang sudah bersih, hanya sisa ampas kopi, sedikit. Tergeletak di dua sisi. Pagi itu suasana di gunung lebih sepi dari kemarin.

Gua dan bebatuan juga sepi. Tidak seperti kemarin. Ketika Tiara bersembunyi. Atau saat Tora gusar mencari. Sebuah lampu minyak tergeletak, apinya sudah mati. Sesosok manusia tergeletak lunglai, tak bernyawa, tak berakal, tak berhati, tak lagi berarti. Dengan rambut terurai, karena kupluk lepas dari kepala ketika tadi malam sibuk berlari. Terlihat jaket merah dan jaket biru tua yang lusuh karena keringat, tergeletak bersamaan di satu sisi. Sosok itu telah mati. Bersimbah darah hasil menyakiti diri sendiri.

 

Tora adalah Tiara. Tiara adalah Tora.
Mereka adalah raga yang satu, dalam dua jiwa yang berbeda.

March 11, 2014

Pilihan Satu-Satunya…

Filed under: konsentrasi — terdalam @ 7:05 pm

Ketika bersabar adalah pilihan satu-satunya, bisa apa selain terima kenyataan?

Percuma meracau atau bertindak kacau, bahkan malas untuk sekedar berkicau.

Lebih baik tetap tenang, yang penting hati senang, siapa tahu besok jadi pemenang.

Tapi kalau hari ini masih kalah, ya sudah, terima saja. Cenderung pasrah!

November 24, 2013

you..

Filed under: complicated,lepas! — terdalam @ 9:09 am

if only you saw what i can see
you’ll understand why i want you so desperately

kita pernah sangat manis
sampai rasanya seperti mimpi

saat ini aku hanya bisa menahan tangis
karena tangispun sudah tak lagi berarti

apakah kamu yang dulu manis hanya mimpi?
atau aku yang sejak awal menyimpan harap yang berlebih

lalu siapa yang bertanggung jawab atas mimpi di setiap malam
ketika namamu, lalu sosokmu datang silih berganti seolah pertanda

tapi mungkin hanya lamunan hati
mimpi aku sendiri, mimpi tentang kamu, masih kamu…

August 27, 2013

apa ini? ini apa?

Filed under: konsentrasi — terdalam @ 7:17 am

masih dia, dia lagi. masih dia yang membuat aku menangis.
masih dia yang membuat aku meringis.
bahkan masih dia yang membuat aku tertawa pahit,sampai tawa terkikik karena geli.
kenapa masih dia, dia lagi. masih dia yang hadir dalam ingatan.

tak pernah coba tuk lupakan. tapi memang datang membayang.
tak juga coba tuk diingatkan. memang bayangnya masih tenang tak lekang
dan sampai saat ini, akhirnya masih dia, dia lagi.
yang datang. rusuh. kemudian pergi. lalu datang lagi.

rasa ini masih begini. pernah memaki. hanya sedetik. kemudian air mata menitik. menyesal. tapi tak ada arti.

apa ini? ini apa?

kalau cinta memang begini? begini amat sih?

tapi aku juga senang karena ada dia di sini.

aku juga senang, karena dia lagi. dia lagi.

apa ini? ini apa?

August 20, 2013

melepas harap…

Filed under: lepas! — terdalam @ 5:59 pm

Mereka yang paling berbahagia adalah mereka yang paling sedikit berharap, begitu kata petuah tak bernama. sedikit tidak percaya, tapi akhirnya memilih untuk sepakat. Jika sepakat itu mengurangi debat, lalu aku memilih sepakat.

Tidak mungkin muncul petuah dari seseorang yang tak bernama dan masih bertahan sampai hari ini, jika petuah itu tidak terbukti kebenarannya. Petuah itu bertahan pasti karena suatu alasan. Mungkin karena teruji pada beberapa kenyataan.

Seperti aku di hari ini, masih berkubang dalam kolam bernama harapan. Aku sudah hampir kehabisan nafas, sebentar lagi mungkin mati, tenggelam. Aku pikir kolam ini jernih dan tidak terlalu dalam. Ternyata, kotor, dalam, dan penuh sampah. Sementara aku tidak bisa berenang. Bukan karena tidak mampu, tapi sampah-sampah ini terlalu banyak, bahkan menjerat kaki dan tanganku. Aku tak bisa melepaskannya. Aku terjebak dalam kolam harapan.

Seandainya aku tidak pernah berharap, mungkin aku persiapkan diriku untuk hal buruk semacam ini. Seandainya aku tidak berharap, pasti aku pelajari dulu kolam itu. Jika aku masih ingin berenang di dalamnya, harus aku bersihkan lebih dulu. Tapi aku, manusia yang penuh harap. Kolam kupikir pasti jernih dan aku bisa berenang dengan nyaman di dalamnya.

Aku lupa, bahwa hidup penuh dengan kejutan. Kadang manis, tidak jarang pahit. Seandainya aku tidak berharap pada kolam itu, mungkin aku akan cukup bahagia menemukan pemandangan lain di perjalanan. Tanpa perlu berharap bisa berenang di dalamnya. Tapi aku juga hanya manusia, yang masih asik merancang khayal dari harap yang entah benar atau angan.

Kali ini, aku belajar sekali lagi untuk melepas harap. Aku pikir, aku cukup sederhana dalam harapan. Ternyata, cerita nyata membuktikan, harapanku masih terlalu mewah untuku. Atau haruskah aku hidup tanpa harapan? Sama sekali..

Terdengar menakutkan. Tapi mungkin itu lebih baik.

Selamat tinggal harapan… Ku lepas kamu dengan keikhlasan. Biarlah hidup yang menjawab, apa arti pelepasan ini.. Selamat jalan harapan… Terbang tinggilah!

Petuah bijak dari seseorang tak bernama itu, benar adanya…

bersembunyi…

Filed under: Uncategorized — terdalam @ 5:17 pm

Aku ingin bersembunyi dari dunia.

Aku ingin bersembunyi dari waktu.

Aku ingin bersembunyi dari rasa.

Aku ingin bersembunyi dari asa.

Tapi dunia masih membawaku dalam perjalanannya yang belum berujung. Dan waktu terus berjalan tanpa menungguku menjadi dewasa. Dan rasa masih bersemayam tanpa mau peduli, apakah aku masih mau atau sudah lelah. Dan asa masih menggantung di angkasa impian, menumbuhkan harapan, berkembang jadi angan yang tak jarang menyakitkan.

Lalu persembunyianku apa gunanya? Jika semua masih sama. Bahkan cinta yang tak aku mengerti-pun getarnya tak pernah berubah. Masih dengan detak yang sama, degup yang tak pernah redup. Padahal berkali aku coba hentikan geraknya, tapi cinta makin melesat meninggalkan logika yang sibuk menghitung benar-salah. 

Pernah aku bersembunyi di balik sosok lain, berharap sinarnya akan terganti. Ternyata yang aku dapat hanya sia-sia belaka. Bayangnya masih yang melintas di lepas pandang. Dalam sadar, dalam alam impian. Kenapa aku tidak bisa bersembunyi darinya? Kenapa aku tidak bisa menggantikannya? Kenapa? 

Lalu, dimana lagi aku harus bersembunyi darinya?

masih begini, bagaimana bisa begitu?

Filed under: Uncategorized — terdalam @ 5:00 pm

Ternyata, mengetahui teori saja tidak pernah cukup. Banyak buku psikologi yang saya baca, buku agama yang saya punya, buku komunikasi yang bahkan saya baca berulang-ulang.

Ternyata, itu tidak menjadikan saya piawai dalam urusan berhubungan dengan diri sendiri. Apalagi berurusan dengan makhluk lain. Apalagi sok mengerti soal cinta dan cita-cita berumah tangga. Padahal, semua rasa di hati masih sama. Tidak pernah berubah, tidak termakan waktu, tidak habis oleh jarak, bahkan tidak hilang ditelan amarah.

Lalu kenapa saya masin terus melakukan kesalahan yang sama? Berulang, terus, dan tidak pernah menjadi lebih baik? Lalu kenapa rasa itu masih bertahan di hati? Ah, hati… Apa yang kamu simpan di sana, hati? Kenapa kamu seringkali jadi jawara dari banyak peristiwa? Membaca buku psikologi tidak membuat saya mengerti bagaimana cara mempergunakan hati. Membaca buku agama tidak membuat sholat saya menjadikan saya pribadi yang sabar. Membaca buku komunikasi, tapi saya masih terbata-bata menyampaikan pesan dan membaca maksud tujuan.

Ternyata, semua teori itu hanya mampu membuat saya mengangguk ketika membacanya. Selepas itu, saya kembali menjadi saya yang bodoh dan jauh dari pengetahuan yang sesungguhnya. Masihkah saya akan diberi kesempatan belajar untuk kesekian kalinya?

Entahlah…

Saya hanya bisa belajar lagi, membaca lagi, mengerti lagi, kali ini lebih serius dalam mempraktekannya…

Semoga.. 🙂

August 12, 2013

terulang, mengulang..

Filed under: complicated — terdalam @ 5:35 pm

Mencoba yang pernah terlupa, ternyata sia-sia

Entah salah dimana, salah siapa, maunya tidak salah

Tapi, bukan itu ternyata ujung cerita, terulang

Dewasa tinggal khayalan, karena lagi-lagi hati jadi juara..

July 4, 2013

mengerti…

Filed under: complicated — terdalam @ 1:26 pm

sabtu di pulau dewata tidak seperti biasa
mungkin karena aku lebih dewasa

menyikapi hidup yang penuh duka
tapi aku tak mau lagi merana

hanya karena kata-kata fana,
semacam cinta

masih banyak lelaki gila
yang senang bermain mata

tapi mengaku tahu arti kata cinta
padahal mengenal diripun mereka buta

sudahlah, cari dirimu sendiri
sebelum sok mencari belahan hati

jika menemukan hatimu saja kau sulit
apalagi untuk sekedar coba mengerti

padahal semua damai di muka bumi hanya dimulai dari satu aksi,
mencoba mengerti…

June 16, 2013

dua dalam satu, aku…

Filed under: kontemplasi — terdalam @ 7:40 am

dua hati bertemu, lalu cinta berlagu, dan mereka mengaku, “kita adalah satu”
sesungguhnya aku adalah dua dalam satu, tidakkah kamu ingin tahu, siapa sebenarnya aku?
bukan satu kamu kemudian satu aku lalu menjadi dua, dan melebur kembali menjadi satu
tapi satu aku yang hitam, dan satu aku yang putih, dan aku sesungguhnya adalah abu-abu

aku ingin diberi, aku berdiri angkuh, aku memaksamu ikuti inginku
tapi aku juga ingin memberi, aku bersimpuh luluh, dan aku menuruti maumu
aku berani menantang dunia, tapi aku juga takut pada hati kecilku
tak jarang aku merasa tak mampu, tapi aku juga sering merasa akulah yang nomor satu

dalam ke-aku-anku, aku adalah dua dalam satu
aku adalah tangis dan tawa dalam satu waktu
aku adalah sedih dan bahagia yang sudah menjadi padu
aku adalah kecewa dan puas dengan alat ukur yang saru

akan ku temukan aku dulu, sebelum aku sibuk mencarimu
setelah aku tahu apa yang aku mau, aku akan tahu buat apa kamu di hidupku
perintahmu bukan lagi harus untukku, tapi tulus dariku
perhatianmu tak lagi jadi kewajibanmu, tapi hadiah bagiku

lembutmu bertemu lembutku, itulah sesungguhnya satu
kasarmu kikis oleh kasarku, lalu kita mengerti apa artinya menyatu
gusarmu tergusur tenangku, resahku basah oleh lembut bahasamu
dua dalam satu aku bertemu dua dalam satumu, sebenar-benarnya satu!

andainya aku kalah oleh satuku yang lainnya, tentu aku akan kalah olehmu
begitupun kamu, andainya kamu tak menemukan satumu yang lainnya, hancurlah kamu olehku
apalah arti cinta berlagu, jika kita kemudian runtuh luruh, satu, demi satu,  lalu kita kembali kaku
dan hati mendadak  beku, bersamamu tak lagi seru, ketika kamu, atau aku merasa yang paling ‘aku’

akan ku temukan aku dulu, setelah itu aku akan mencarimu
jikapun kau sudah bertemu yang selainku, aku akan berterima kasih pada waktu
karena dia mengajarku untuk menemukan aku dalam aku
sebelum aku membaginya padamu, atau pada yang selainmu…

itulah sesungguhnya satu…
dua aku dalam satu aku,
harus aku temukan dulu,
agar benar-benar menjadi satu,  aku!

Next Page »

Create a free website or blog at WordPress.com.